Satpol PP Gianyar menertibkan 72 gepeng sepanjang Januari 2026, mayoritas berasal dari Karangasem, di area wisata Ubud.
Fenomena gelandangan dan pengemis (gepeng) di destinasi wisata populer, seperti Bali, selalu menarik perhatian. Baru-baru ini, Satpol PP Gianyar menertibkan puluhan gepeng, mayoritas warga Karangasem, sekaligus mengungkap modus operandi yang cukup menguntungkan. Lonjakan angka penertiban ini menunjukkan praktik tersebut semakin marak, terutama pada awal tahun 2026.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Homeless.
Peningkatan Penertiban Gepeng di Gianyar
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Gianyar telah menertibkan sebanyak 72 orang gelandangan dan pengemis (gepeng) sepanjang Januari 2026. Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun 2025, di mana hanya 21 gepeng yang berhasil ditertibkan. Ini menandakan adanya eskalasi aktivitas gepeng di wilayah tersebut.
Kepala Satpol PP Gianyar, I Putu Dian Yudananegara, mengonfirmasi data tersebut saat ditemui di kantornya pada Kamis (29/1/2026). Ia menjelaskan bahwa operasi penertiban ini telah dimulai sejak 9 Januari 2026. Peningkatan jumlah ini menyoroti perlunya tindakan yang lebih proaktif dan berkelanjutan dari pihak berwenang.
Mayoritas dari 72 gepeng yang ditertibkan ini berasal dari Desa Pedahan, Kabupaten Karangasem. Mereka sempat menjalani pembinaan di Dinas Sosial Gianyar. Namun, terdapat insiden di mana empat dari gepeng tersebut berhasil kabur dengan melompati tembok kantor Dinas Sosial, sehingga hanya 68 orang yang akhirnya dipulangkan ke daerah asalnya.
Modus Operandi Dan Keuntungan Para Gepeng
Yudananegara mengungkapkan bahwa para gepeng ini umumnya menggunakan modus mengemis dan berjualan untuk mendapatkan uang. Modus tersebut seringkali melibatkan anak-anak dan dikoordinir oleh orang tua mereka, khususnya di area strategis seperti Pasar Rakyat Gianyar. Penataan lokasi strategis ini memungkinkan mereka untuk bertemu banyak orang.
Pada dini hari, para gepeng tersebut sering mengemis kepada para pedagang di Pasar Rakyat Gianyar. Meskipun hasil mengemis langsung tidak terlalu besar, sekitar Rp 50 ribu per hari, mereka memiliki strategi lain. Uang hasil mengemis ini kemudian digunakan untuk membeli tisu dengan harga Rp 2 ribu per bungkus.
Tisu-tisu tersebut selanjutnya dijual kembali kepada masyarakat atau wisatawan dengan harga Rp 5 ribu. Dengan modus ini, Yudananegara menyebutkan bahwa setiap gepeng mampu mengantongi hingga Rp 150 ribu dalam sehari. Keuntungan yang lumayan ini menjadi daya tarik bagi mereka untuk terus beroperasi.
Baca Juga: Banjir Di Jaksel: Anna Teringat Kiprah Ahok Yang Peduli Warga
Ubud, Lahan Subur Aktivitas Gepeng
Kecamatan Ubud, yang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata utama di Bali, diidentifikasi sebagai “lahan paling subur” bagi para gepeng ini. Mereka sering terlihat menjajakan tisu kepada wisatawan asing yang banyak berlalu-lalang di sana. Daya tarik turis asing ini menjadi peluang besar bagi para gepeng.
Wisatawan asing, atau bule, seringkali merasa kasihan dan cenderung memberikan bantuan kepada para gepeng. Hal ini bahkan pernah menimbulkan protes dari turis saat petugas Satpol PP berusaha menertibkan mereka. Situasi ini menunjukkan adanya dilema antara penegakan aturan dan persepsi kemanusiaan.
Strategi Penertiban Satpol PP Gianyar
Untuk mengatasi masalah ini, petugas Satpol PP Gianyar kini meningkatkan intensitas penertiban dengan lebih ketat. Yudananegara menjelaskan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan seluruh pecalang, baik di Ubud maupun di wilayah lain yang kerap didatangi para gepeng. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan penertiban.
Para gepeng yang terlihat berkeliaran di jalan atau mangkal di emperan toko yang tutup akan langsung ditertibkan dan dipulangkan ke daerah asalnya. Strategi ini dianggap sebagai cara paling efektif untuk menjaga ketertiban di Gianyar, tanpa melanggar hak asasi manusia mereka.
Yudananegara menegaskan bahwa pendekatan ini adalah cara terbaik yang ia miliki untuk “memanusiakan” mereka. Dengan mengembalikan gepeng ke daerah asalnya, diharapkan mereka dapat kembali ke lingkungan yang lebih mendukung dan terhindar dari kehidupan jalanan. Ini adalah solusi yang diambil untuk menjaga ketertiban dan kesejahteraan jangka panjang.
Jangan lewatkan update berita seputaran Homeless serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari balipost.com